Status Konservasi Species

Status konservasi dari 21 jenis burung yang ditemukan di Geragai menunjukkan bahwa semua jenis memiiki tingkat keterancaman terhadap kepunahan yang rendah (LC) menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). Semua jenis yang ditemukan juga tidak dilindungi di Indonesia menurut Permen LHK No. 106 tahun 2018 dan menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), semua jenis yang ditemukan tidak masuk kedalam daftar yang larangan diperjualbelikan.

NoNama JenisNama IlmiahIUCNCITESPermen LHK P.106/2018
1Gereja erasiaPasser montanusLC--
2Walet linchiCollocalia linchiLC--
3Cabak kotaCaprimulgus affinisLC--
4Burung madu srigantiNectarinia jugularisLC--
5Cinenen pisangOrthotomus sutoriusLC--
6Perkutut jawaGeopelia striataLC--
7Walet sapiCollocalia esculentaLC--
8Cucak kutilangPycnonotus aurigasterLC--
9Burung cabe jawaDicaeum trochileumLC--
10Perenjak jawaPrinia familiarisNT--
11Burung madu kelapaAnthreptes malacensisLC--
12Burung madu rimbaArachnothera hypogrammicaLC--
13Wiwik lurikCacomantis sonneratiiLC--
14Cipoh kacatAegithina tiphiaLC--
15Caladi tilikDendrocopos moluccensisLC--
16Merbah mata merahPycnonotus brunneusLC--
17Kacamata biasaZosterops palpebrosusLC--
18Gagak hutanCorvus encaLC--
19Bondol jawaLonchura leucogastroidesLC--
20Bondol pekingLonchura punctulataLC--
21Merbah cerukcukPycnonotus goiavierLC--

Keterangan: LC= Least Concern

Upaya konservasi yang dapat dilakukan di kawasan hutan Betara yaitu dengan menjaga kelestarian hutan agar keberadaan burung tidak terganggu. Pengkayaan tumbuhan pakan yang sesuai juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menjaga kondisi habitat. Tingginya nilai keanekaragaman menunjukkan bahwa kondisi habitat tergolong baik bagi keberadaan burung yang berarti bahwa habitat ini harus tetap dijaga secara utuh. Gangguan yang dapat merusak habitat hutan Betara sangat mungkin akan merubah keanekaragaman hayati didalamnya

Implikasi Perlindungan Gambut terhadap Komponen Fauna

Karakter tutupan vegetasi merupakan komponen ekosistem yang menjadi faktor penting bagi komunitas fauna di dalamnya. Vegetasi menyediakan jasa ekosistem bagi kebutuhan satwa atas perlindungan (shelter), sumber makanan, tempat peristirahatan atau bertengger dan sebagainya. Strategi perlindungan fauna secara in-situ selalu menempatkan faktor habitat sebagai objek utama untuk dikelola, sebaliknya setiap upaya pengelolaan maupun perlindungan tutupan vegetasi hutan secara langsung akan berimplikasi pada peningkatan kualitas habitat yang kemudian diikuti dengan peningkatan kualitas dan kuantitas fauna yang membaik. Program perlindungan Kehati ekosistem gambut di KKTPNG selama lima tahun terakhir juga terlihat memiliki dampak positif bagi komponen fauna sebagaimana disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7  Hubungan linear antara indeks Kehati Shannon-Wiener (H’) Fauna terhadap H’ Flora

Program konservasi di KKTPNG merekam perkembangan indeks keanekaragaman hayati flora telah mengalami perkembangan. Pada tahun 2014 tercatat keanekaragaman flora di KKTPNG adalah sebesar 1.2748 yang menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis yang sedang dengan 9 species habitus pohon tercatat di plot stasiun pengamatan, kemudian di tahun ini indeks H’ tercatat menjadi 1.5073 dengan jumlah spesies habitus pohon ditemukan sebanyak 11 jenis.

Perkembangan keanekaragaman hayati flora dari proses suksesi alami berdampak positif terhadap komponen fauna dengan korelasi yang kuat, mengingat indeks keanekaragaman hayati kedua komponen ini sama-sama mengalami kenaikan konsisten dari tahun ke tahun berkat program perlindungan yang diterapan.  Proses suksesi alami ini berlangsung baik tanpa gangguan kebakaran, pembalakan dan perburuan hutan.

Sinergi dengan Perencanaan Pemerintah dan Target Nasional sesuai P. 5 /KB BRG- SB/11/2016

Jambi merupakan salah satu Provinsi sasaran dan target kinerja Program Koordinasi dan Fasilitasi Restorasi Gambut prioritas pemerintah yang dijalankan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG). Terdapat 208.134 hektar target perlindungan kawasan gambut yang belum dibuka dan masih utuh di Provinsi Jambi yang diprioritaskan oleh BRG sebagaimana yang tertuang dalam Lampiran I Peraturan Kepala Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia Nomor: P. 5 /KB BRG- SB/11/2016 tentang Rencana Strategis Badan Restorasi Gambut Tahun 2016-2020.

Gambar 8 Lokasi Prioritas Badan Restorasi Gambut di Sumatra

Gambar 8 Lokasi Prioritas Badan Restorasi Gambut di Sumatra

Provinsi Jambi khususnya Kabupaten Tanjung Jabung Timur (TJT) cukup menjadi perhatian dan prioritas mengingat luasnya lahan gambut baik yang berkanal maupun yang tidak. Strategi restorasi dan konservasi gambut di kabupaten TJT dari mulai peningkatan sosialisasi dan edukasi serta partisipasi dan dukungan masyarakat, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pelaksanaan restorasi ekosistem gambut, hingga konstruksi dan operasi restorasi hidrologis dan restorasi vegetatif perlu dukungan dari setiap sektor. PetroChina International Jabung Ltd (PCJL) sebagai Perusahaan swasta yang beroperasi di kabupaten TJT memiliki tanggungjawab sosial dan lingkungan melalui program perlindungan Kehati di KKTPNG yang sejalan dan mendukung visi kelestarian ekosistem gambut di Indonesia ini, dengan program dan sasaran yang sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis Pengelolaan KKTPNG.

 

Rencana Strategis Pengelolaan KKTPNG

Kemajuan teknologi informasi, dan keterbukaan pasar suatu perusahaan tidak terelakkan menjadi bagian sistem global, dimana dalam sistem ini, suatu rangkaian aktivitas bisnis dalam satu wilayah (nasional maupun regional) akan menjadi sub sistem dari sistem bisnis global. Kecenderungan perkembangan usaha (bisnis) sekarang ini mengikuti sistem global. Dalam sistem ini, suatu rangkaian aktivitas bisnis dalam satu wilayah (nasional maupun regional) akan menjadi sub sistem dari sistem bisnis global. Sejalan dengan globalisasi korporasi serta berkembangnya paradigma tentang pembangunan berkelanjutan (sustainable development) sebagai Sustainable development goals (SDGs) 2030, menuntut peran korporasi/entitas bisnis (perusahaan) untuk turut menyusun terlaksananya tata perekonomian dunia yang lebih adil, baik untuk generasi sekarang maupun generasi mendatang. Hal ini telah mendorong dikembangkannya satu etika bisnis (business ethics) yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan (ekologi).

Dengan dimotori era baru dengan mengusung Revolusi Industri 4.0 yang cenderung terdisrupsi dalam teknologi dan informasi yang serba terbuka, maka sudah barang tentu citra sebuah perusahaan akan lebih cepat diakses oleh masyarakat global. Oleh karena itu, standar kualitas manajemen dan produksi juga dituntut menyesuaikan dan mengikuti sistem yang mengikuti standar berskala internasional (diantaranya meliputi beberapa ketentuan dalam International Standar Operastion/ISO). Dalam hal ini di Indonesia juga telah dikembangkan sebagai acuan dalam melakukan penilaian performa korporasi atau perusahaan.

Berdasar etika bisnis yang telah berkembang tersebut, maka orientasi tanggung jawab korporasi juga berkembang tidak hanya pada peningkatan aset pemegang saham (shareholder), akan tetapi juga mencakup tanggung jawab lingkungan dan sosial (environment and social responsilibility). Atas pertimbangan tersebut, analisis lingkungan eksternal bisnis (termasuk didalamnya faktor lingkungan dan biodiversitas di sekitar lokasi) dimasukan (incorporated) dalam proses penentuan tujuan perusahaan,  bersama elemen-elemen lingkungan internal perusahaan. Biodiversitas menjadi salah satu variable yang dihitung dalam analisis ekonomi sebuah perusahaan. Baik atau buruknya perusahaan akan bergantung bagaimana sebuah perusahaan mengambil peran dan tanggung jawabnya terhadap lingkungan di sekitarnya.

Penyusunan dokumen ini pun tak akan luput dari perhatian publik. Dunia yang kini lebih melek teknologi dan informasi seakan sudah seperti satu desa dengan cakupan wilayah seluruh dunia, atau dalam bahasa lainnya biasa disebut global village. Salah satu bentuk perwujudan tanggung jawab perusahaan di lingkungan global village adalah memasukkan keberpihakan dan keterlibatan perusahaan dalam upaya perlindungan lingkungan yang menjadi standar penilaian terhadap performa perusahaan. Salah satunya  berwujud keterlibatan dalam upaya perlindungan dan pelestarian biodiversity baik in situ ataupun ex situ.

Penyusunan rencana strategis pengelolaan ini yang dimaksud ialah memuat beberapa hal, antara lain dimulai dari perencanaan program, penyusunan kerangka kerja, kerangka pelibatan masyarakat, hingga kerangka monitoring keberhasilan yang terukur. Guna kelestarian satwa liar beserta ekosistem yang menopang kehidupannya ini perlu disusun beberapa strategi yang disajikan