Status Konservasi Species di Betara

Status konservasi dari 22 jenis burung yang ditemukan di Betara menunjukkan bahwa hampir semua jenis memiiki tingkat keterancaman terhadap kepunahan yang rendah (LC) menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). Jenis A. concretus dan H. duvaucelii  yang berstatus Near Threatened (NT) yang berarti bahwa jenis tersebut memiliki keterancaman dalam kepunahan emskipun kemungkinannya tidak tinggi. Hanya terdapat dua jenis yang dilindungi di Indonesia menurut Permen LHK No. 106 tahun 2018 yaitu A. concretus dan R. euryura dan menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), semua jenis yang ditemukan tidak masuk kedalam daftar yang dilarang untuk diperjualbelikan.

NoNama JenisNama IlmiahIUCNCITESPermen LHK P.106/2018
1Bondol jawaLonchura leucogastroidesLC--
2Bondol pekingLonchura punctulataLC--
3Tekukur biasaSpilopelia chinensisLC--
4Walet linchiCollocalia linchiLC--
5Cekakak-hutan melayuActenoides concretusNT-DILINDUNGI
6Cucak kutilangPycnonotus aurigasterLC--
7Gereja erasiaPasser montanusLC--
8Cucak-sakit tubuhPycnonotus melanoleucosNT--
9Cipoh kacatAegithina tiphiaLC--
10Pijantung kecilArachnothera longirostraLC--
11Luntur putriHarpactes duvauceliiNT--
12Burung madu belukarAnthreptes malacensisLC--
13Cekakak cinaHalcyon pileataLC--
14Layang-layang batuHirundo tahiticaLC--
15Kipasan gunungRhipidura euryuraLC-DILINDUNGI
16Merbak cerukcukPycnonotus goiavierLC--
17Burung madu kelapaAnthreptes malacensisLC--
18Burung madu rimbaArachnothera HypogrammicaLC--
19Burung cabai jawaDicaeum trochileumLC--
20Pelatuk merahChrysophlegma miniaceumLC--
21Kadalan birahPhaenicophaeus curvirostrisLC--
22Burung madu srigantiNectarinia jugularisLC--

Keterangan: LC= Least Concern

Upaya konservasi yang dapat dilakukan di kawasan hutan Betara yaitu dengan menjaga kelestarian hutan agar keberadaan burung tidak terganggu. Pengkayaan tumbuhan pakan yang sesuai juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menjaga kondisi habitat. Tingginya nilai keanekaragaman menunjukkan bahwa kondisi habitat tergolong baik bagi keberadaan burung yang berarti bahwa habitat ini harus tetap dijaga secara utuh. Gangguan yang dapat merusak habitat hutan Betara sangat mungkin akan merubah keanekaragaman hayati didalamnya.

Implikasi Perlindungan Gambut terhadap Komponen Fauna

Karakter tutupan vegetasi merupakan komponen ekosistem yang menjadi faktor penting bagi komunitas fauna di dalamnya. Vegetasi menyediakan jasa ekosistem bagi kebutuhan satwa atas perlindungan (shelter), sumber makanan, tempat peristirahatan atau bertengger dan sebagainya. Strategi perlindungan fauna secara in-situ selalu menempatkan faktor habitat sebagai objek utama untuk dikelola, sebaliknya setiap upaya pengelolaan maupun perlindungan tutupan vegetasi hutan secara langsung akan berimplikasi pada peningkatan kualitas habitat yang kemudian diikuti dengan peningatan kualitas dan kuantitas fauna yang membaik. Program perlindungan Kehati ekosistem gambut di KKTPB selama lima tahun terakhir juga terlihat memiliki dampak positif bagi komponen fauna sebagaimana disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7 Hubungan linear antara indeks Kehati Shannon-Wiener (H’) Fauna terhadap H’ Flora

 

Program konservasi di KKTPB merekam perkembangan indeks keanekaragaman hayati flora telah mengalami perkembangan. Pada tahun 2014 tercatat keanekaragaman flora di KKTPB adalah sebesar 2.716 yang menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis yang sedang dengan 19 species habitus pohon tercatat di plot stasiun pengamatan, kemudian di tahun ini indeks H’ tercatat menjadi 2.865 dengan jumlah spesies habitus pohon ditemukan sebanyak 22 jenis.

Perkembangan keanekaragaman hayati flora dari proses suksesi alami berdampak positif terhadap komponen fauna dengan korelasi yang kuat, mengingat indeks keanekaragaman hayati kedua komponen ini sama-sama mengalami kenaikan konsisten dari tahun ke tahun berkat program perlindungan yang diterapan.  Proses suksesi alami ini berlangsung baik tanpa gangguan kebakaran, pembalakan dan perburuan hutan.

Sinergi dengan Perencanaan Pemerintah dan Target Nasional sesuai P. 5 /KB BRG- SB/11/2016

Jambi merupakan salah satu Provinsi sasaran dan target kinerja Program Koordinasi dan Fasilitasi Restorasi Gambut prioritas pemerintah yang dijalankan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG). Terdapat 208.134 hektar target perlindungan kawasan gambut yang belum dibuka dan masih utuh di Provinsi Jambi yang diprioritaskan oleh BRG sebagaimana yang tertuang dalam Lampiran I Peraturan Kepala Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia Nomor: P. 5 /KB BRG- SB/11/2016 tentang Rencana Strategis Badan Restorasi Gambut Tahun 2016-2020.

Gambar 8 Lokasi Prioritas Badan Restorasi Gambut di Sumatra

Provinsi Jambi khususnya Kabupaten Tanjung Jabung Barat (TJB) cukup menjadi perhatian dan prioritas mengingat luasnya lahan gambut baik yang berkanal maupun yang tidak. Strategi restorasi dan konservasi gambut di kabupaten TJB dari mulai peningkatan sosialisasi dan edukasi serta partisipasi dan dukungan masyarakat, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pelaksanaan restorasi ekosistem gambut, hingga konstruksi dan operasi restorasi hidrologis dan restorasi vegetatif perlu dukungan dari setiap sektor. PetroChina International Jabung Ltd (PCJL) sebagai Perusahaan swasta yang beroperasi di kabupaten TJB memiliki tanggungjawab sosial dan lingkungan melalui program perlindungan Kehati di KKTPB yang sejalan dan mendukung visi kelestarian ekosistem gambut di Indonesia ini, dengan program dan sasaran yang sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis Pengelolaan KKTPB.

 

Rencana Strategis Pengelolaan KKTPB

Pelestarian lingkungan yang berprinsip berkelanjutan dan partisipatif memperhitungkan peran korporasi/entitas bisnis dalam menyusun terlaksananya tata perekonomian yang lebih adil, baik untuk generasi sekarang maupun generasi mendatang. Hal ini telah mendorong dikembangkannya satu etika bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan (ekologi). Berdasar etika bisnis tersebut, maka orientasi tanggung jawab korporasi juga berkembang tidak hanya pada profit, akan tetapi juga mencakup tanggung jawab lingkungan dan sosial. Atas pertimbangan tersebut, analisis lingkungan eksternal bisnis (termasuk didalamnya faktor lingkungan dan biodiversitas di sekitar lokasi) dimasukan dalam proses penentuan tujuan perusahaan, bersama elemen-elemen lingkungan internal perusahaan.

Salah satu bentuk perwujudan tanggung jawab perusahaan adalah memasukkan keberpihakan dan keterlibatan perusahaan dalam upaya perlindungan lingkungan menjadi standar penilaian terhadap performa perusahaan. Salah satunya berwujud keterlibatan dalam upaya perlindungan dan pelestarian biodiversity baik in situ ataupun ex situ. Tujuan dari penyusunan Rencana Strategis Pengelolaan Bisodiversity ini adalah untuk menyusun program-program pengelolaan biodiversity untuk kurun waktu jangka menengah 5 tahunan.

Guna kelestarian satwa liar beserta ekosistem yang menopang kehidupannya ini perlu disusun beberapa strategi, yaitu:

  1. Mendorong kerjasama dengan Pemerintah Daerah, masyarakat lokal, NGO/LSM, pihak swasta (perusahaan) dan perguruan tinggi secara terintegrasi dan kolaboratif dalam menjalankan program Pengelolaan Keanekaragaman Hayati. Pengelolaan ini tidak dapat hanya dilakukan secara jangka pendek, minimal dalam jangka menengah (5 tahun). Hal ini didasari karena monitoring yang dilakukan agar terlihat beda nyata dari tahun pertama hingga tahun ke 5 secara konsisten terlihat kenaikan kualitas lingkungannya.
  2. Peningkatan upaya penguatan rehabilitasi dan restorasi ekosistem gambut untuk mencapai kualitas ekosistem gambut yang stabil, sehat dan fungsional.
  3. Pengembangan upaya pengawetan plasma nutfah untuk mempertahankan keberadaan kekayaan plasma nutfah guna mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan jalan menjadikan kawasan konservasi KKTPB menjadi kawasan Konservasi in-situ kehati gambut Betara. Pengembangan ini artinya perlu penambahan jenis-jenis lain di dalam kawasan untuk memperkaya jenis flora maupun fauna yang dapat hidup di dalam kawasan. Selain itu perlu pula melepas liarkan spesies-spesies satwa liar yang dapat mengisi dan membantu proses ekologis seperti jenis-jenis burung pengicau, pemakan biji, jenis-jenis herpetofauna seperti bunglon, jenis-jenis mamalia seperti monyet, bajing dan lainnya.
  4. Pengembangan dan Penguatan Dukungan Sosial, Ekonomi, dan Kelembagaan Masyarakat dan stakeholder terkait untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan. Perlu adanya program-program pembinaan masyarakat yang masyarakat dapat mengambil manfaat secara langsung dengan keberadaan kawasan konservasi ini. Seperti pengembangan wisata, pelatihan pembuatan kerajianan-kerajinan yang berasal dari hasil hutan bukan kayu (misal gelang-gelang manik dari rotan dan semak, pemeliharaan pohon sialang dan budidaya madu hutan). Penyuluhan dan perlindungan terhadap satwa liar yang hidup pun perlu dilakukan guna menjaga keseimbangan alam antara alam dengan manusia. Serta berbagai pelatihan lainnya yang bisa dilakukan.