Profile Fauna

Karakter ekosistem Kawasan Konservasi Betara & Geragai

Untuk selengkapnya silahkan klik gambar dibawah ini, temukan karakteristik ekosistem Fauna di sini

Betara (Gas Facility)

Sistem informasi mengenai Betara (Gas Facility)

Geragai (Oil Facility)

Sistem informasi mengenai Geragai (Oil Facility)

Inventarisasi Fauna

Pengambilan data mamalia menggunakan metode Rapid Assesment yaitu pengamatan cepat dengan mencatat jenis-jenis mamalia yang ditemukan dan tidak harus dilakukan pada suatu jalur khusus atau lokasi khusus. Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui jenis-jenis mamalia yang berada di lokasi pengamatan, tetapi tidak dapat digunakan untuk menghitung pendugaan populasi.

Pengamat mencatat baik perjumpaan secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui keberadaannya melalui jejak (jejak kaki, kotoran, rontokan rambut, dan bekas atau sisa makanannya).

  • Pengambilan data burung menggunakan metode titik hitung (Point count) (Bibby et al. 2000). Pengamatan dilakukan dengan berdiri pada titik tertentu pada habitat yang diteliti kemudian mencatat perjumpaan terhadap burung dalam rentang waktu tertentu (van Helvoort 1981). Dalam penelitian ini jarak antar titik ditetapkan 100 m dengan radius pengamatan 50 m. Panjang jalur di setiap habitat adalah 1000 m dengan pengamatan pada setiap titik dilakukan selama 10 menit. Pengamatan dilakukan pada pagi dan sore hari. Parameter yang diukur adalah jenis, jumlah individu dan waktu perjumpaan.
    Gambar 3 Penggunaan metode Point Count

    Gambar 3 Penggunaan metode Point Count

    Selain itu digunakan juga metode daftar jenis MacKinnon dengan mencatat maksimal 20 jenis burung yang baru dilihat pada minimal 10 daftar jenis yang berbeda (MacKinnon et al. 1998). Metode ini dilakukan dengan pengamatan langsung maupun tidak langsung dan berguna untuk mengetahui kekayaan jenis burung. Menurut MacKinnon et al. (1998) keuntungan metode ini adalah tidak terlalu tergantung pada pengalaman dan pengetahuan pengamat, intensitas pengamatan, keadaan cuaca atau faktor-faktor lainnya. Dalam penelitian ini setiap daftar jenis berisikan 10 jenis burung yang dicatat pada beberapa jalur di tipe habitat yang berbeda.

Metode yang digunakan dalam inventarisasi herpetofauna adalah Visual Encounter Survey (VES). Pengamatan dilakukan dengan menjelajahi lokasi survei dan hanya mencatat jenis-jenis yang terlihat saja. jenis-jenis yang teridentifikasi dari jejak, bau, atau suara tidak dimasukkan ke dalam list perjumpaan. Metode ini umumnya digunakan untuk menentukan kekayaan jenis suatu daerah, untuk menyusun suatu daftar jenis, serta untuk memperkirakan kelimpahan relatif jenis-jenis herpetofauna yang ditemukan. Metode ini biasa dilakukan di sepanjang suatu jalur, dalam suatu plot, sepanjang sisi sungai, sekitar tepi kolam dan seterusnya selama sampel reptil dan amfibi bisa terlihat.

Data yang dihasilkan dianalisis dengan perhitungan sebagai berikut:

 

Parameter Flora

Parameter Kehati flora yang dihitung adalah Kerapatan (K), Frekuensi(F), Dominansi (D) dan Indeks Nilai Penting (INP)

 

  • Kerapatan Jenis (Ki), jumlah tumbuhan jenis i dalam suatu unit area

Keterangan:
Ki  : Kerapatan jenis ke-i
ni  : Jumlah total tumbuhan jenis i
A  : Luas area total pengambilan contoh

Kerapatan  relatif (KR) adalah  perbandingan antara jumlah tegakan jenis i dan jumlah total kerapatan tegakan seluruh jenis (Sn) (English et al., 1994):

Keterangan:
KR  : Kerapatan relatif jenis ke-i
ni  : Jumlah total tegakan dari jenis ke-i
Sn  : Jumlah total tegakan seluruh jenis

  • Frekuensi (Fi), peluang ditemukannya jenis i dalam semua petak
    contoh yang dibuat :
    Keterangan:
    Fi  : Frekuensi jenis ke-i
    𝑝i : Junlah plot ditemukannya jenis ke-i
    ΣP : Jumlah plot pengamatan
  • Frekuensi relative (FR) adalah perbandingan antara frekuensi jenis i (Fi), dengan jumlah frekuensi untuk seluruh jenis (SF):

Keterangan:
FRi : Frekuensi relative jenis i
Fi : Frekuensi jenis ke-i
SF : Jumlah frekuensi untuk seluruh jenis

  • Dominansi (Di), luas penutupan jenis i dalam suatu unit area.
  • Keterangan:
    Di : Dominansi jenis i
    BA : Basal area
    A   : Luas total area pengambilan contoh (plot)
    Dominansi relatif jenis (DRi) adalah perbandingan antara jumlah Dominansi suatu jenis dengan jumlah Dominansi seluruh jenisKeterangan:
    DRi : Dominansi relatif jenis i
    Di : Dominansi jenis ke-i
    SD : Total Dominansi untuk seluruh jenis
  • Indeks Nilai Penting.
    INP= KR + FR + DR
    Keterangan :
    INP = Indeks Nilai Penting
    KR = Kerapatan Relatif
    FR = Frekuensi Relatif
    DR = Dominansi RelatifIndeks Nilai Penting ini memberikan suatu gambaran mengenai pengaruh atau peranan suatu jenis dalam ekosistem. Indeks nilai penting memiliki kisaran antara 0-300.
  • Keanekaragaman spesies, heterogenitas spesies dan merupakan ciri khas struktur komunitas. Formula yang digunakan untuk menghitung keanekaragaman spesies didasarkan pada indeks Shannon-wienner (Brower dan Zar 1989), yaitu :
  • Keterangan :H’ : Indeks keanekaragamanni : Jumlah total individu semua spesies ke i𝑝 i : Proporsi jumlah individu spesies ke-i terhadap jumlah individu total (𝑝 i = ni / N)N : Jumlah total individu semua jenisKriteria indeks keanekaragaman berdasarkan Shannon-Wiener (Krebs 1989) adalah:
    • H’ < 1 : Keanekaragaman spesiesnya rendah, penebaran jumlah individu tiap spesies rendah, dan kestabilan komunitasnya rendah.
    • 1 < H’ < 3 : Keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiap spesies atau genera sedang, dan kestabilan komunitasnya sedang.
    • H’ > 3 : Keanekaragaman tinggi dan penyebaran jumlah individu tiap spesies atau genera tinggi.

Dominansi Burung

Jenis burung yang dominan di dalam kawasan, ditentukan dengan menggunakan rumus menurut van Helvoort (1981), yaitu:

Keterangan:
Di = indeks dominansi suatu jenis burung
Ni = jumlah individu suatu jenis
N = jumlah individu dari seluruh jenis

Kriteria: Di = 0 – 2% jenis tidak dominan
Di = 2% – 5% jenis subdominant
Di = > 5% jenis dominan
Penentuan nilai dominansi ini berfungi untuk mengetahui atau menetapkan jenis-jenis burung yang dominan atau bukan.

Indeks Keanekaragaman Jenis burung (H’)

Kekayaan jenis burung ditentukan dengan menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (1988) dengan rumus:

Keterangan:

H’          = indeks keanekaragaman jenis

Pi           = proporsi nilai penting ((jumlah perjumpaan jenis i)/(jumlah

perjumpaan seluruh jenis))

Ln          = logaritma natural

 

Kriteria:              H’ < 1                  = menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis yang rendah

1 < H’ < 3            = menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis yang sedang

H’ > 3                  = menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi

 

Indeks Kemerataan Burung (E)

Proporsi kelimpahan jenis burung dihitung dengan menggunakan indeks kemerataan (Index of Evennes) yaitu :

 

E     =    H’/ln S

 

Keterangan :  S  = jumlah jenis

Penentuan nilai indeks kemerataan ini berfungsi untuk mengetahui kemerataan setiap jenis burung dalam komunitas yang dijumpai. Nilai indeks ini berkisar antara 0 – 1. Apabila nilai E < 0,20 dapat dikatakan kondisi penyebaran jenis tidak stabil, sedangkan apabila nilai E 0,21 < E < 1 dapat dikatakan kondisi penyebaran jenis stabil (Krebs 1986).

 

Analisis Deskriptif

Analisis yang diuraikan dalam bentuk deskriptif adalah status konservasi. Status konservasi didasarkan pada Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, Red list IUCN dan CITES. Analisis deskriptif ini dilakukan untuk data baik Flora maupun Fauna

 

  1. Status perdagangan Internasional (CITES)

Appendiks I Appendiks II Appendiks III Non Appendiks CITES
Status perdagangan Internasional berdasarkan CITES (konvensi internasional untuk perdagangan satwa yang terancam punah). Konvensi ini menggolongkan jenis-jenis satwa dalam daftar Apendiks:
– Apendiks I : Jenis-jenis yang telah terancam kepunahan dan perdagangannya harus diatur dengan aturan yang benar-benar ketat dan hanya dibenarkan untuk hal-hal khusus.
– Apendiks II : Jenis-jenis yang populasinya genting mendekati terancam punah sehingga kontrol perdagangannya secara ketat dan diatur dengan aturan yang ketat.
– Appendiks III : Jenis-jenis yang dilindungi dalam batas-batas kawasan habitatnya, dan suatu saat peringkatnya bisa dinaikkan ke dalam Apendiks II atau Apendiks I
– Non Apendiks (NA) : Jenis-jenis yang belum terdaftar dalam penggolongan di atas.

2. Status perlindungan

Status Perlindungan oleh pemerintah yang mengacu pada peraturan perundang-undangan Republik Indonesia PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa cq. PermenLHK P.20 tahun 2018.

3. Status keterancaman

Kategori Status konservasi IUCN Red List merupakan kategori yang digunakan oleh IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) dalam melakukan klasifikasi terhadap spesies-spesies berbagai makhluk hidup yang terancam kepunahan. Kategori status konservasi dalam IUCN Red List pertama kali dikeluarkan pada tahun 1984. Sampai kini daftar ini merupakan panduan paling berpengaruh mengenai status konservasi keanekaragaman hayati.

IUCN Red List menetapkan kriteria untuk mengevaluasi status kelangkaan suatu spesies. Kriteria ini relevan untuk semua spesies di seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk memperingatkan betapa pentingnya masalah konservasi kepada publik dan pembuat kebijakan untuk menolong komunitas internasional dalam memperbaiki status kelangkaan spesies. Kategori konservasi berdasarkan IUCN Redlist meliputi Extinct (EX; Punah); Extinct in the Wild (EW; Punah Di Alam Liar); Critically Endangered (CR; Kritis), Endangered (EN; Genting atau Terancam), Vulnerable (VU; Rentan), Near Threatened (NT; Hampir Terancam), Least Concern (LC; Berisiko Rendah), Data Deficient (DD; Informasi Kurang), dan Not Evaluated (NE; Belum dievaluasi). Berikut klasifikasi keterancaman kepunahan menurut IUCN.

  1. Extinct (EX; Punah) adalah status konservasi yag diberikan kepada spesies yang terbukti (tidak ada keraguan lagi) bahwa individu terakhir spesies tersebut sudah mati.
  2. Extinct in the Wild (EW; Punah Di Alam Liar) adalah status konservasi yang diberikan kepada spesies yang hanya diketahui berada di tempat penangkaran atau di luar habitat alami mereka.
  3. Critically Endangered (CR; Kritis) adalah status konservasi yang diberikan kepada spesies yang menghadapi risiko kepunahan di waktu dekat.
  4. Endangered (EN; Genting atau Terancam) adalah status konservasi yang diberikan kepada spesies yang sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar yang tinggi pada waktu yang akan datang.
  5. Vulnerable (VU; Rentan) adalah status konservasi yang diberikan kepada spesies yang sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan datang.
  6. Near Threatened (NT; Hampir Terancam) adalah status konservasi yang diberikan kepada spesies yang mungkin berada dalam keadaan terancam atau mendekati terancam kepunahan, meski tidak masuk ke dalam status terancam.
  7. Least Concern (LC; Berisiko Rendah) adalah kategori IUCN yang diberikan untuk spesies yang telah dievaluasi namun tidak masuk ke dalam kategori manapun.
  8. Data Deficient (DD; Informasi Kurang), Sebuah takson dinyatakan “informasi kurang” ketika informasi yang ada kurang memadai untuk membuat perkiraan akan risiko kepunahannya berdasarkan distribusi dan status populasi.
  9. Not Evaluated (NE; Belum dievaluasi); Sebuah takson dinyatakan “belum dievaluasi” ketika tidak dievaluasi untuk kriteria-kriteria di atas.