Keanekaragaman Jenis Fauna

Karakter ekosistem Kawasan Konservasi Geragai

Nilai kenakaragaman jenis yang diperoleh yaitu H’= 2,27 (Tabel 8). Nilai ini terkategori tinggi. Magurran (2004) menyebutkan semakin tinggi nilai keanekaragaman jenis maka semakin baik kondisi habitatnya. Kondisi habitat di Betara memang sangat cocok bagi komunitas burung dengan kerapatan vegetasi yang cukup tinggi dan variasi vegetasi yang banyak sehingga bervariasi pula bahan pakan yang mungkin terdapat pada lokasi tersebut. Rusmendro et al. (2009) menambahkan semakin tinggi nilai keanekaragaman jenis akan mendukung adanya hubungan antar komponen dalam komunitas yang kompleks dan semakin rendah nilai keanekaragaman jenis berarti komunitas sedang mengalami tekanan. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kawasan hutan Betara perlu dijaga kelestariannya agar eksistensi burung tetap terjaga disana.

Tabel 8 Nilai indeks keanekaragaman jenis

IndeksNilai
Keanekaragaman (H')2,27
Kemerataan (E')0,84
Kekayaan (Dmg)3,58

Indeks kemerataan jenis burung menunjukkan sebaran individu dari setiap jenis burung pada suatu ekosistem tertentu. Semakin mendekati 1 (satu) berarti sebaran jenis burung pada lokasi tersebut semakin merata. Nilai kemerataan (E’= 0,84) menunjukkan semakin merata jenis burung yang terdapat disana. Nilai kemerataan sangat dipengaruhi oleh jumlah sampel yang diperoleh. Terdapatnya  jenis-jenis yang mendominasi seperti cucak kutilang dan walet linchi menyebabkan nilai kemerataan mengecil.

Nilai kekayaan spesies sangat dipengaruhi oleh usaha dalam pengambilan sampel (Magurran 2004). Nilai kekayaan spesies akan semakin tinggi apabila semua jenis yang didapatkan memiliki jumlah individu yang relatif sama yang berarti tidak ada jenis yang dominan. Semakin kaya spesies burung menunjukkan semakin baik kondisi habitat pendukungnya. Habitat tersebut harus tetap dijaga agar kondisi burung tetap terjaga.

Analisis dominansi digunakan untuk melihat bagaimana komposisi jenis burung yang dominan, sub-dominan, dan tidak dominan dalam suatu komunitas burung yang diamati. Daya adaptasi jenis burung yang tinggi dalam suatu lingkungan mempengaruhi tingkat dominansi suatu burung. Semakin kuat jenis dalam beradaptasi dengan habitatnya, semakin tinggi juga kemungkinan jenis itu dalam mendominasi di habitatnya. Utari (2000) menyebutkan bahwa faktor penting yang dapat membuat suatu jenis mendominasi suatu lingkungan adalah kemampuan burung dalam beradaptasi terhadap kondisi lingkungannya dan kemampuan untuk memilih serta menciptakan relung khusus bagi dirinya.

Jenis yang paling dominan diantaranya yaitu cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), walet linchi (Collocalia linchi), gereja erasia (Passer montanus), burung madu kelapa (Anthreptes malacensis) dan walet sapi (Collocalia esculenta) (Tabel 9). Jenis walet linchi merupakan jenis yang paling dominan di hutan Geragai (D = 26%). Jenis lain yang memiliki nilai dominansi yang besar yaitu cucak kutilang (D = 22%). Hal tersebut menunjukkan bahwa jenis ini dapat beradaptasi dengan baik dengan habitatnya dan memiliki relung ekologi yang cukup di dalam habitat. Menurut Wisnubudi (2009), burung memerlukan syarat-syarat tertentu untuk terus mendukung kehidupannya, antara lain ialah kondisi ekosistem yang cocok dan aman dari segala macam gangguan.

Tabel 9 Nilai dominansi setiap jenis

Nama JenisNilai Dominansi (%)
walet linchi26
cucak kutilang22
burung madu kelapa6
Gereja Erasia8
Walet Sapi10

Sedikitnya daftar jenis yang dominan menunjukkan bahwa kondisi habitat dapat mendukung hampir semua jenis sehingga kondisinya cederung merata dan stabil. Dalam hal ini, peran habitat menjadi sangat penting bagi keberadaan jenis burung yang beragam. Habitat dapat berfungsi sebagai tempat pakan, berlindung dan berkembangbiak bagi satwa liar didalamnya termasuk burung (Alikodra 1990).

Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukan 21 jenis burung yang berasal dari 16 famili. Jenis yang paling banyak ditemukan yaitu walet linchi (Callocalia linchi) dan cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) (Tabel 7). Berdasarkan familinya, famili Nectariniidae dan Pycnonotidae.

Tabel 7 Daftar jenis burung yang diperoleh

NoNama JenisNama IlmiahFamili
1Gereja ErasiaPasser montanusPasseridae
2Walet LinchiCollocalia linchiApodidae
3Cabak KotaCaprimulgus affiniCaprimulgidae
4Burung Madu SrigantiNectarinia jugularisNectariniidae
5Cinenen PisangOrthotomus sutoriusSylviidae
6Perkutut JawaGeopelia striataColumbidae
7Walet SapiCollocalia esculentaApodidae
8Cucak KutilangPycnonotus aurigasterPycnonotidae
9Burung Cabe JawaDicaeum trochileumDicaeidae
10Perenjak JawaPrinia familiarisCristicolidae
11Burung Madu KelapaAnthreptes malacensisNectariniidae
12Burung Madu RimbaArachnothera HypogrammicaNectariniidae
13Wiwik LurikCacomantis sonneratiiCuculidae
14Cipoh KacatAegithina tiphiaAegithinidae
15Caladi TilikDendrocopos moluccensisPicidae
16Merbah Mata MerahPycnonotus brunneusPycnonotidae
17Kacamata BiasaZosterops palpebrosusZosteropidae
18Gagak HutanCorvus encaCurvidae
19Bondol JawaLonchura leucogastroidesEstrildidae
20Bondol PekingLonchura punctulataEstrildidae
21Merbah CerukcukPycnonotus goiavierPycnonotidae

Jenis walet linchi (Callocalia linchi) merupakan jenis yang banyak ditemukan di lokasi (Gambar 5). Jenis ini biasa ditemukan dalam jumlah yang banyak karena cara hidupnya bergerombol. Jenis ini biasa ditemukan saat terbang. Price (2004) menyebutkan bahwa jenis dari genus Callocalia mudah di identifikasi karena suaranya yang nyaring ketika terbang. Jenis ini biasa hidup di gua-gua atau bangunan sebagai tempat berlindung dan berkembang biak.

Jenis lain yang juga banyak ditemukan yaitu cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster). Menurut MacKinnon et al (1998) cucak kutilang hidup berkelompok, dijumpai pada hutan-hutan sekunder, area terbuka, semak belukar dan padang rumput, serta pakannya dari jenis jenis serangga, ulat dan aneka hewan kecil lainnya. Jenis ini mudah ditemukan karena dapat hidup di berbagai jenis habitat. Jenis ini biasa ditemukan beraktivitas di pohon-pohon kecil sampai besar. Dahlan et al. (2008) menyebutkan bahwa cucak kutilang menyukai habitat terbuka, vegetasi berstrata b, strata bawah, semak belukar, vegetasi yang relatif rendah, dan sering dijumpai pada rerumputan di taman atau hamparan.

Gambar 5 Walet linchi (Collocalia linchi)

Burung banyak teramati pada kondisi vegetasi yang terbuka. Selain disukai oleh burung, kondisi vegetasi yang terbuka juga sangat memudahkan pengamat dalam mengamati burung karena tidak terhalang oleh rapatnya tajuk. Hal ini dibenarkan oleh Wisnubudi (2009) yang menyatakan keterbukaan tajuk mempengaruhi banyaknya jenis burung yang ditemukan, semakin terbuka tutupan tajuknya maka semakin banyak burung yang akan ditemukan jika dibandingkan dengan habitat yang memiliki tutupan tajuk rapat dan tertutup.

Daftar jenis dengan menggunakan metode MacKinnon didapatkan kurva dengan kecenderungan peningkatan yang curam di Geragai (Gambar 6). Hanya terdapat 3 kali daftar jenis MacKinnon dengan memilih 10 jenis burung yang didapatkan selama pengamatan. Kurva yang curam mengindikasikan bahwa jenis burung yang ada di lokasi masih dapat bertambah apabila dilakukan penambahan waktu pengamatan. MacKinnon et al. (1998) menyebutkan bahwa kurva yang curam dapat menunjukkan adanya spesies burung yang mungkin masih bisa didapatkan di lokasi pengamatan. Peningkatan jumlah burung sejalan dengan peningkatan jumlah daftar, dan pada suatu titik kurva tersebut akan mendatar yang menunjukkan tidak ditemui penambahan jenis baru (Bibby et al. 2004).

  • Jumlah

Gambar 6 Kurva penambahan jenis MacKinnon