Keanekaragaman Jenis Fauna

Karakter ekosistem Kawasan Konservasi Betara

Komposisi dan Keanekaragaman Jenis

Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukan 22 jenis burung yang berasal dari 14 famili. Jenis yang paling banyak ditemukan yaitu jenis walet linchi (Collocalia linchi) dan cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) dengan masing-masing 14 individu yang ditemukan selama pengamatan (Tabel 1). Berdasarkan familinya, famili Nectariidae merupakan famili yang paling banyak ditemukan di lokasi pengamatan.

Tabel 7 Daftar jenis yang diperoleh

NoNama JenisNama IlmiahFamiliJumlah
1Bondol JawaLonchura leucogastroidesEstrildidae8
2Bondol PekingLonchura punctulataEstrildidae4
3Tekukur BiasaSpilopelia chinensisColumbidae2
4Walet LinchiCollocalia linchiApodidae14
5Cekakak-Hutan MelayuActenoides concretusHalcyonidae1
6Cucak KutilangPycnonotus aurigasterPycnonotidae14
7Gereja ErasiaPasser montanusPasseridae7
8Cucak-Sakit TubuhPycnonotus melanoleucosPycnonotidae4
9Cipoh KacatAegithina tiphiaAegithinidae1
10Pijantung kecilArachnothera longirostraNectariniidae2
11Luntur PutriHarpactes duvauceliiTrogonidae1
12Burung Madu BelukarAnthreptes malacensisNectariniidae1
13Cekakak CinaHalcyon pileataHalcyonidae2
14Layang-Layang BatuHirundo tahiticaHirundinidae1
15Kipasan GunungRhipidura euryuraRhipiduridae4
16Merbak CerukcukPycnonotus goiavierPycnonotidae2
17Burung Madu KelapaAnthreptes malacensisNectariniidae2
18Burung Madu RimbaArachnothera HypogrammicaNectariniidae2
19Burung Cabai JawaDicaeum trochileumDicaeidae1
20Pelatuk MerahChrysophlegma miniaceumPicidae1
21Kadalan BirahPhaenicophaeus curvirostrisCuculidae1
22Burung Madu SrigantiNectarinia jugularisNectariniidae1
Total76

Jenis cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster ) merupakan jenis yang banyak dijumpai di Betara (Gambar 1). Menurut MacKinnon et al (1998) cucak kutilang hidup berkelompok, dijumpai pada hutan-hutan sekunder, area terbuka, semak belukar dan padang rumput, serta pakannya dari jenis jenis serangga, ulat dan aneka hewan kecil lainnya. Jenis ini mudah ditemukan karena dapat hidup di berbagai jenis habitat. Jenis ini biasa ditemukan beraktivitas di pohon-pohon kecil sampai besar. Dahlan et al. (2008) menyebutkan bahwa cucak kutilang menyukai habitat terbuka, vegetasi berstrata b, strata bawah, semak belukar, vegetasi yang relatif rendah, dan sering dijumpai pada rerumputan di taman atau hamparan.

Burung banyak teramati pada kondisi vegetasi yang terbuka. Selain disukai oleh burung, kondisi vegetasi yang terbuka juga sangat memudahkan pengamat dalam mengamati burung karena tidak terhalang oleh rapatnya tajuk. Hal ini dibenarkan oleh Wisnubudi (2009) yang menyatakan keterbukaan tajuk mempengaruhi banyaknya jenis burung yang ditemukan, semakin terbuka tutupan tajuknya maka semakin banyak burung yang akan ditemukan jika dibandingkan dengan habitat yang memiliki tutupan tajuk rapat dan tertutup.

Gambar 5 Jenis yang banyak ditemui (cucak kutilang)

Daftar jenis dengan menggunakan metode MacKinnon didapatkan kurva dengan kecenderungan peningkatan yang cukup tinggi di Betara (Gambar 2). Hanya terdapat 3 kali daftar jenis MacKinnon dengan memilih 10 jenis burung yang didapatkan selamat pengamatan. Kurva yang curam mengindikasikan bahwa jenis burung yang ada di Betara masih dapat bertambah apabila dilakukan penambahan waktu pengamatan. MacKinnon et al. (1998) menyebutkan bahwa kurva yang curam dapat menunjukkan adanya spesies burung yang mungkin masih bisa didapatkan di lokasi pengamatan. Peningkatan jumlah burung sejalan dengan peningkatan jumlah daftar, dan pada suatu titik kurva tersebut akan mendatar yang menunjukkan tidak ditemui penambahan jenis baru (Bibby et al. 2004).

  • Jumlah Jenis

Nilai kenakaragaman jenis yang diperoleh yaitu H’= 2,63 (Tabel 2). Nilai ini terkategori tinggi. Magurran (2004) menyebutkan semakin tinggi nilai keanekaragaman jenis maka semakin baik kondisi habitatnya. Kondisi habitat di Betara memang sangat cocok bagi komunitas burung dengan kerapatan vegetasi yang cukup tinggi dan variasi vegetasi yang banyak sehingga bervariasi pula bahan pakan yang mungkin terdapat pada lokasi tersebut. Rusmendro et al. (2009) menambahkan semakin tinggi nilai keanekaragaman jenis akan mendukung adanya hubungan antar komponen dalam komunitas yang kompleks dan semakin rendah nilai keanekaragaman jenis berarti komunitas sedang mengalami tekanan. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kawasan hutan Betara perlu dijaga kelestariannya agar eksistensi burung tetap terjaga disana.

Nilai kenakaragaman jenis yang diperoleh yaitu H’= 2,63 (Tabel 2). Nilai ini terkategori tinggi. Magurran (2004) menyebutkan semakin tinggi nilai keanekaragaman jenis maka semakin baik kondisi habitatnya. Kondisi habitat di Betara memang sangat cocok bagi komunitas burung dengan kerapatan vegetasi yang cukup tinggi dan variasi vegetasi yang banyak sehingga bervariasi pula bahan pakan yang mungkin terdapat pada lokasi tersebut. Rusmendro et al. (2009) menambahkan semakin tinggi nilai keanekaragaman jenis akan mendukung adanya hubungan antar komponen dalam komunitas yang kompleks dan semakin rendah nilai keanekaragaman jenis berarti komunitas sedang mengalami tekanan. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kawasan hutan Betara perlu dijaga kelestariannya agar eksistensi burung tetap terjaga disana.

Tabel 8 Nilai Keanekaragaman Jenis

IndeksNilai
Keanekaragaman (H')2,632
Kemerataan (E')0,85149
Kekayaan (Dmg)484,906

Indeks kemerataan jenis burung menunjukkan sebaran individu dari setiap jenis burung pada suatu ekosistem tertentu. Semakin mendekati 1 (satu) berarti sebaran jenis burung pada lokasi tersebut semakin merata. Nilai kemerataan (E’= 0,85) menunjukkan semakin merata jenis burung yang terdapat disana. Nilai kemerataan sangat dipengaruhi oleh jumlah sampel yang diperoleh. Terdapatnya  jenis-jenis yang mendominasi seperti cucak kutilang dan walet linchi menyebabkan nilai kemerataan mengecil.

Nilai kekayaan spesies sangat dipengaruhi oleh usaha dalam pengambilan sampel (Magurran 2004). Nilai kekayaan spesies akan semakin tinggi apabila semua jenis yang didapatkan memiliki jumlah individu yang relatif sama yang berarti tidak ada jenis yang dominan. Semakin kaya spesies burung menunjukkan semakin baik kondisi habitat pendukungnya. Habitat tersebut harus tetap dijaga agar kondisi burung tetap terjaga.

Analisis dominansi digunakan untuk melihat bagaimana komposisi jenis burung yang dominan, sub-dominan, dan tidak dominan dalam suatu komunitas burung yang diamati. Daya adaptasi jenis burung yang tinggi dalam suatu lingkungan mempengaruhi tingkat dominansi suatu burung. Semakin kuat jenis dalam beradaptasi dengan habitatnya, semakin tinggi juga kemungkinan jenis itu dalam mendominasi di habitatnya. Utari (2000) menyebutkan bahwa faktor penting yang dapat membuat suatu jenis mendominasi suatu lingkungan adalah kemampuan burung dalam beradaptasi terhadap kondisi lingkungannya dan kemampuan untuk memilih serta menciptakan relung khusus bagi dirinya.

Jenis yang paling dominan diantaranya yaitu cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), walet linchi (Collocalia linchi), bondol peking (Lonchura punctulata) dan gereja erasia (Passer montanus) (Tabel 3). Jenis cucak kutilang dan walet linchi merupakan jenis yang paling dominan di hutan Betara (D = 18,42%). Hal tersebut menunjukkan bahwa jenis ini dapat beradaptasi dengan baik dengan habitatnya dan memiliki relung ekologi yang cukup di dalam habitat. Menurut Wisnubudi (2009), burung memerlukan syarat-syarat tertentu untuk terus mendukung kehidupannya, antara lain ialah kondisi ekosistem yang cocok dan aman dari segala macam gangguan

Tabel 9 Nilai dominansi jenis yang ditemukan

Nama JenisNilai Dominansi (%)
Walet Linchi18,42
Cucak Kutilang18,42
Bondol Peking10,53
Gereja Erasia9,21

Sedikitnya daftar jenis yang dominan menunjukkan bahwa kondisi habitat dapat mendukung hampir semua jenis sehingga kondisinya cederung merata dan stabil. Dalam hal ini, peran habitat menjadi sangat penting bagi keberadaan jenis burung yang beragam. Habitat dapat berfungsi sebagai tempat pakan, berlindung dan berkembangbiak bagi satwa liar didalamnya termasuk burung (Alikodra 1990).